Sejarah BARa

Implementasi manajemen risiko bank merupakan suatu keharusan dalam menciptakan industri perbankan yang sehat sejalan dengan Arsitektur Perbankan Indonesia. Implementasi Basel II yang direncanakan mulai diterapkan di Indonesia pada tahun 2009 secara bertahap diharapkan dapat menunjang tujuan tersebut.

Beberapa faktor keberhasilan dalam penerapan manajemen risiko bank adalah kualitas sumber daya manusia, adanya hubungan komunikasi dan kerjasama yang baik antara para bankir, dan antara perbankan dengan regulator.

Dalam rangka mendukung faktor keberhasilan penerapan manajemen risiko di bank, diperlukan suatu wadah organisasi para bankir yang khusus dan fokus pada bidang perbankan, khususnya bidang manajemen risiko bank. Wadah tersebut diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi dan kerjasama para bankir dalam penerapan konsep manajemen risiko secara efektif, selain berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi perbankan dalam memberikan masukan kepada regulator.

Sebagai tindak lanjut keinginan perbankan akan hal tersebut diatas, pada bulan Juli 2008, sejumlah bankir sudah bertemu, membahas dan sepakat untuk membentuk asosiasi pengelola risiko bank. Asosiasi tersebut diberi nama Banker Association for Risk Management (BARa) atau Asosiasi Pengelola Risiko Bank. Secara organisasi, BARa akan menjadi bagian dari Ikatan Bankir Indonesia (IBI) seperti halnya asosiasi perbankan lain seperti Ikatan Internal Audit Bank (IAIB), Certified Wealth Management Association CWMA dan Forexindo. Dengan bernaung dibawah IBI, sudah pasti asosiasi ini akan memperoleh dukungan insan perbankan, karena IBI merupakan satu-satunya asosiasi perbankan di Indonesia.

Dalam acara launching tanggal 29 Agustus 2008, logo BARa diperkenalkan pada masyarakat perbankan. Selain itu dibentuk formatur yang diberi mandat untuk membentuk pengurus organisasi BARa. Selanjutnya pengurus terpilih akan menyusun program kerja dan aktivitas lain yang diperlukan.

Langkah pertama adalah segera menyusun sistem sertifikasi manajemen risiko bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Perbankan (LSPP), memperoleh ijin BNSP dan SKKNI. Setelah itu baru BARa akan melaksanakan aktivitas seperti upaya pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, penelitian & pengembangan, konsultasi, lokakarya, sharing strategi & informasi penerapan konsep manajemen risiko, publikasi, pengembangan sistim database risk management baik sendiri maupun bekerjasama dengan pihak lain.

Visi
Menjadi mitra bank dalam mewujudkan industri perbankan nasional dengan standar praktis terbaik yang mampu mengelola risiko secara optimal

Misi
  1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada industri perbankan agar mampu mengelola risiko secara profesional.
  2. Menerapkan dan mengembangkan Manajemen Risiko pada industri perbankan dengan landasan kode etik & standar profesi yang berkualitas.
  3. Membina hubungan dengan regulator dan stakeholder lainnya dalam rangka mengakomodasi kebutuhan perbankan.
  4. Mengembangkan pengetahuan di bidang pengelolaan risiko sesuai prinsip-prinsip dan norma-norma internasional namun disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
  5. Menumbuh-kembangkan pengertian dan memperdalam kesadaran akan pentingnya peranan pengelolaan risiko dalam pertumbuhan ekonomi kepada masyarakat pada umumnya.

Apa latar Belakang pembentukan BARa?

Implementasi manajemen risiko bank merupakan suatu keharusan dalam menciptakan industri perbankan yang sehat, sekaligus suatu keharusan untuk memenuhi ketentuan regulator. Beberapa faktor utama untuk mencapai keberhasilan dalam penerapan manajemen risiko bank adalah tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas, komunikasi diantara para bankir, dan komunikasi diantara bank dengan regulator berjalan dengan baik.

Dalam upaya mendorong faktor keberhasilan penerapan manajemen risiko di bank, maka diperlukan suatu wadah organisasi para bankir yang berprofesi sebagai pengelola risiko bank. Wadah tersebut diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi bagi para bankir dalam upaya menerapkan konsep manajemen risiko secara efektif. Wadah tersebut juga diharapkan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan aspirasi perbankan dalam memberikan masukan kepada otoritas moneter.


Mengapa harus ada BARa lagi, bukankah sudah ada IRPA? Bukankah lebih baik apabila IBI meminta IRPA menjadi bagian dari IBI?

Sebenarnya IBI sudah menyampaikan permintaan agar IRPA kompartemen perbankan dapat menjadi bagian dari IBI, sehingga perbankan mempunyai akses terhadap penyelenggaraan sertifikasi yang dibutuhkan perbankan dan accountable dan sejalan dengan anggaran dasar IBI. Namun upaya ini tidak membuahkan hasil, sehingga perbankan merasa perlu mendirikan BARa sebagai saluran aspirasi.

BARa telah meminta kepada IBI agar diperkenankan menjadi bagian dari IBI. IBI sudah menyatakan mendukung dan menyetujui BARa dibawah IBI.

Selanjutnya IBI sudah memberitahukan hal ini pada seluruh asosiasi terkait perbankan seperti Perbanas, Perbarindo, Asbanda, Himbara dan anggota lainnya, dengan tujuan agar industri perbankan mengetahuinya dan mendukung upaya pendirian BARa ini.


Apakah non-bankir dapat menjadi anggota BARa?

Anggota BARa dibatasi hanya profesi bankir, atau ex bankir. Pihak lain pemerhati masalah manajemen risiko akan menjadi stake holder BARa untuk mengembangkan risk management


Bagaimana hubungan BARa dengan IBI?

BARa telah meminta kepada IBI agar diperkenankan menjadi bagian dari IBI. IBI sudah menyatakan mendukung dan menyetujui BARa dibawah IBI.

Selanjutnya IBI sudah memberitahukan hal ini pada seluruh asosiasi terkait perbankan seperti Perbanas, Perbarindo, Asbanda, Himbara dan anggota lainnya, dengan tujuan agar industri perbankan mengetahuinya dan mendukung upaya pendirian BARa ini.


Apa peran BARa dalam sertifikasi risk management?

BARa sebagaimana asosiasi profesi lainnya menyusun ateri body of knowledge, dan materi uji kompetensi, yang akan digunakan oleh LSPP menyelenggarakan sertifkasi risk managment.

# Training Provider Name Link
1 Data Not Available Yet

Name Position Instance
Subardiah Direktur BARa
Data Not Available Yet - -
Top